| Surga tersembunyi : Telaga Bidadari |
Me : Hi Syen….welcome to Makassar
Syenny : Thx sist….temanin jalan – jalan ya….
Me : Sippp…..mau kemana
?
Kuliner, mall, kafe, laut, pemandangan….semuanya ada di Makassar.
Syenny : Terserah kemana….ikut saja.
Me : Oke deh…so besok
kita ke Rammang – Rammang.
Rammang – Rammang adalah area pegunungan
karst ( batu kapur) di Maros – Pangkep, tepatnya di desa Salenrang, luasnya
sekitar 45.000 hektar dan merupakan kawasan Karst terbesar didunia kedua
setelah kawasan Karst di Yunnan, Tiongkok. Rammang – Rammang merupakan Taman Nasional
karenanya area ini dilindungi oleh pemerintah.
Lokasinya tidak jauh dari Makassar atau kalau punya waktu
panjang transit di Makassar, lokasinya dari Bandara Sultan Hasanuddin tidak
terlalu jauh sekitar 45 menit . Kalau menggunakan kendaraan pribadi sekitar 1
jam perjalanan. Kami berangkat pagi hari, jam 7 saya sudah jalan dari rumah
untuk menjemput para ladies.
Sebenarnya jam 7 berangkat sudah agak terlambat, karena matahari cukup panas
nantinya ketika kami tiba, tetapi karena membiarkan tamu yang baru tiba bisa
istirahat lebih panjang sedikit di Makassar jadi gak papa. Sekitar jam 8 lewat kami tiba di
Rammang – Rammang. Panas menyengat matahari menyambut kedatangan kami, tetapi
kami sangat gembira karena kami boleh melakukan perjalanan bersama – sama lagi
setelah trip terakhir kami di Jepang.
| Gerbang Selamat Datang Rammang - Rammang |
O iya…terakhir kali saya kesana itu
Desember 2016 toilet belum jadi atau masih dalam pengerjaan, tetapi sekarang
toilet dan beberapa bangunan pusat informasi sudah jadi, termasuk gapura
selamat datang.
Area Karst dinikmati dengan menyusuri
sungai menggunakan perahu kecil atau biasa disebut Katinting, biayanya sudah ditentukan jadi tidak perlu repot untuk
tawar – menawar, karena kami bertiga jadi biaya perahu kami 200rb yang akan
dibayarkan setelah tiba kembali di dermaga.
| Tarif Perahu |
O iya karena perahu kecil yang digunakan
untuk menyusuri sungai tanpa atap, jadi cuaca panas sangat terasa, sebaiknya
membawa beberapa perlengkapan berikut :
1.
Tas ransel / selempang yang
nyaman
2.
Topi
3.
Kacamata hitam
4.
Sunblock / krim tabir surya
5.
Air minum
6.
Kamera ( cukup handphone saja
biar simple )
7.
Sepatu olahraga atau sandal
gunung’
Sebenarnya di area dermaga ada penyewaan
topi pandan dengan harga 5rb, tapi ketika kami tiba belum buka, sehingga
akhirnya Chicha berinisiatif menggunakan payung selama menyusuri sungai.
Sepanjang jalur sungai yang kami lewati pemandangannya sangat indah.
Bukit - bukit kapur yang tinggi serta
pepohonan nipah dan bakau menjadi pesona keindahan sepanjang sungai ini. Juga
beberapa rumah penduduk tradisional khas
Sulawesi Selatan. Paling seru juga ketika perahu kami berpapasan dengan perahu
lain, kami akan terguncang karena tidak seimbang akibat ombak yang ditimbulkan
masing – masing perahu.
Ada beberapa lokasi wisata yang akan dilewati dan kita bisa singgah
untuk menikmati, tetapi kami memutuskan hanya 2 lokasi yang kami singgah yaitu
Telaga Bidadari dan Kampung Berua.
Menurut warga setempat Telaga Bidadari konon katanya merupakan
tempat mandi para bidadari dari langit, hehehe J
sangat menarik….so…mari kita kunjungi.
Dari lokasi perhentian untuk menuju Telaga Bidadari kami perlu berjalan
kaki sekitar 20 menit, yang cukup menguras energi karena melewati sawah,
jembatan bambu yang tidak terawat lagi serta beberapa tebing yang memerlukan
pendakian. Rasa letih kami terbayar dengan suasana damai dan sejuk yang sangat
terasa. Airnya jernih dan dingin karena berasal dari sumber mata air alami,
seandainya kami membawa baju ganti kepingin sekali menceburkan diri di telaga
itu. Kami menikmati suasana di Telaga Bidadari sambil bergantian mengambil
foto.
| Telaga Bidadari |
Setelah puas menikmati Telaga Bidadari, kami melanjutkan perjalanan
kembali berjalan kaki menuju lokasi perahu semula.
Lokasi selanjutnya adalah kampung Berua, yang merupakan kampung
dengan posisi diantara bukit – bukit Karst yang menjulang tinggi. Sebelum
menikmati pemdangan kampung Berua kami wajib membayar biaya retribusi sebesar
5rb / orang.
| Kampung Berua |
Pemandangan indah terhampar didepan mata, tidak henti – hentinya
tiap tempat kami berhenti untuk mengambil foto. Ada beberapa spot sebenarnya di
area kampung Berua yang bisa kita nikmati yaitu Goa Kalelawar,situs Karama,
Padang Ammaruang yang merupakan spot diatas bukit dimana kita bisa melihat
pemandangan kampung Berua dari ketinggian, tapi jalannya lumayan jauh dan juga panas
matahari sangat menyengat, sehingga kami memutuskan untuk beristirahat dengan
mampir disebuah warung kecil. Karena listrik sudah masuk, jadi minuman kemasan
dingin juga tersedia. Benar – benar menjadi pelepas dahaga di cuaca panas
terik. Kami juga memesan es kelapa muda sambil duduk menikmati pemandangan
hamparan bukit Karst. Selain itu juga beberapa fasilitas umum sudah tersedia
seperti toilet, mushola, bale – bale untuk beristirahat dan juga penginapan /
home stay.
Setelah beristirahat beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan
menuju spot dimana beberapa sapi lagi
menikmati rerumputan, kami pun bergantian mengambil gambar disitu, kemudian
kami memutuskan untuk pulang. Pengalaman indah boleh kami dapatkan hari ini
dengan menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan yang luar biasa.
| #LadiesTraveller |
#LadiesTraveller


